UdinBlogss telah kembali dibuka. Demi membantu blog ini agar tetap hidup dimohon untuk mengeklik iklan. Terima kasih.

Senin, 20 Februari 2012

Sepakbola Indonesia



Sepakbola Indonesia pernah mengepakan sayap di ajang bergengsi dunia. Yap, itu adalah Piala Dunia 1938. Namun, pada saat itu masih menggunakan nama Hindia Belanda dan dengan tragisnya mereka dibantai Hungaria dengan skor 6-0 ! Wow ! Konon itu adalah satu-satunya partai yang pernah mereka lakoni diajang Piala Dunia!  Ironisnya, Indonesia punya banyak pemain bola bertalenta namun tak dapat dimanfaatkan oleh kita sendiri dan dapat dibilang kualitas Timnas kita masih kalah dengan negara tetangga, Malaysia.

Ya, itu dibuktian dengan dua kekalahan yang kita dapat dari Malaysia di ajang Piala AFF 2010 dan SEA Games XXVI tahun 2011 lalu. Pada Piala AFF 2010 lalu Timnas kita sempat memukau seluruh masyarakat Indonesia dengan penampilan gemilang mereka. Di laga pertama kontra Malaysia, kita sempat tertinggal oleh gol dari Malaysia,namun semangat juang tinggi pasukan Garuda dapat menumpas perlawanan Malaysia dengan skor 5-1. Dan Indonesia sempat menggebrak Asia Tenggara dengan mengalahkan raja ASEAN, Thailand dengan skor tipis 2-1. Perjalan menuju Final tidaklah mudah mereka harus menghentikan perlawanan Filipina dengan susah payah dan berakhir dengan agregat 1-0. Final yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Impian masyarakat Indonesia untuk melihat Tim Nasional mereka merengkuh Piala AFF semakin bergelora. Namun, dengan berat hati Indonesia harus menyerah pada Malaysia di partai puncak. Setelah kalah 3-0 di Negeri Jiran, Indonesia hanya bisa menang tipis 2-1 atas Malaysia didepan publik sendiri. Sungguh tragis, kemenangan 5-1 di partai perdana kontra Malaysia tidak berarti apa-apa saat di partai puncak.

Nasib yang sama juga dialami Garuda muda di ajang SEA Games XXVI tahun 2011 lalu. Sempat memukau publik sendiri di fase grup, Indonesia harus kalah dramatis di partai puncak setelah melewati drama adu pinalti. Belum usai juga masalah prestasi persepakbolaan Indonesia,  secara mengejutkan Alfred Riedl, Pelatih Tim Nasional Senior yang mengantar Indonesia ke partai puncak Piala AFF 2010 lalu dipecat oleh Ketua Umum PSSI yang baru ! Pelakunya kini bukan Nurdin Halid, melainkan Ketua Umum PSSI yang baru yaitu Djohar Arifin. Dengan tegas Djohar memecat Alfred Riedl dan menggantinya dengan Wim Rijsbergen. Masyarakat pun dibuat bingung oleh pemecatan Alfred Riedl yang dilakukan Djohar. Pemecatan Riedl pun menimbulkan kontroversi (termasuk saya yang bingung sama Djohar). Beberapa masyarakat tidak setuju dengan pemecatan Alfred Riedl yang telah membawa Indonesia ke final Piala AFF 2010. Djohar Arifin mengatakan dengan dalih kontrak yang tidak jelas membuatnya memecat Riedl dan menggantinya dengan Pleatih PSM Makassar, Wim Rijsbergen. 


Belum juga usai masalah pemecatan Riedl, muncul pernyataan mengejutkan dari Wim Rijsbergen dalam konferensi pers usai menerima kekalahan dari Bahrain 0-2 (06/09/11), Wim sempat menyebut bahwa tim yang ia tukangi bukanlah murni racikannya sendiri dan belum siap berlaga di level Internasional.  Apakah ini yang bisa disebut pelatih profesional ? Tidak seharusnya seorang pelatih menghina tim yang ia tukangi sendiri. Bahkan usai pernyataan itu beberapa pemain enggan kembali ke Timnas selama Wim Rijsbergen menjabat sebagai pelatih. Masalah belum juga usai, Djohar Arifin menyatakan bahwa Liga yang RESMI di Indonesia adalah IPL (Indonesia Primer League) dan bukan ISL (Indonesian Super League). Sungguh pernyataan yang mengejutkan. Perlu diingat bahwa IPL baru terbentuk pada 2011 lalu sedangkan ISL sudah ada sejak 2008. Bahkan Djohar akan menambah klub peserta ISL menjadi 24 tim yang semula hanya 18 tim (ckckck ribet deh). 

Banyak klub yang menentang penambahan jumlah peserta ISL. Beberapa perwakilan klub menyatakan menentang adanya penambahan jumlah peserta dikarenakan pemain akan mudah letih karena jumlah laga mereka yang semula 34 laga menjadi 46 laga ! Wow ! sungguh mengejutkan. Itu akan menguras banyak tenaga pemain yang bermain di Liga Indonesia. Semula peserta IPL sudah mencapai 18 sedangkan ISL baru 12 saja. Namun beberapa klub lebih memilih hengkang dari IPL menuju ISL dikarenakan ISL memiliki liga yang berkualitas daripada IPL yang baru saja dibentuk 2011 lalu. Persipura,Sriwijaya dan Persib adalah contoh klub yang memilih hengkang dari IPL menuju ISL dengan alasan memilih liga yang berkualitas. Kini ISL sudah beranggotakan 18 tim sedangkan IPL beranggotakan 13 tim. Beberapa klub yang hengkang dari IPL menuju ISL dikenai sanksi denda dan dilarang tampil diajang Internasional. Bahkan sempat Persipura yang menjuarai ISL 2010-2011 tidak didaftarkan oleh PSSI ke AFC. Hal itu menimbulkan protes dari pihak Persipura. Namun sepertinya tidak di indahkan oleh Djohar Arifin.

Carut marut persepakbolaan Indonesia memang masih hangat di kalangan masyarakat. Terutama soal Ketua Umum PSSI, Djohar Arifin yang telah melanggar statuta kongres di Bali 2011 lalu. Bagaimana negri ini bisa berkembang dalam hal sepakbola kalau pengurus PSSI hanya memikirkan jabatan dan bukannya memikirkan nasib pesepakbolaan Indonesia? Apa jadinya Indonesia beberapa tahun ke depan? Apakah Indonesia sanggup di level Internasional atau hanya akan statis di level ASEAN saja? Kita lihat saja nanti kedepannya. Saya berharap kedepannya Indonesia bisa berlaga di level Internasional dan bisa menjadi kekuatan baru di ASIA dan bahkan dunia. Indonesia pasti bisa !!

0 komentar:

Poskan Komentar